Infokom DPP PPNI - Kompetensi maupun kemampuan bagi tenaga kesehatan semakin ditingkatkan dalam menunjang program pemerintah dalam bidang kesehatan di masyarakat.
Untuk itulah ada 71 tenaga kesehatan di Kota Bontang mengikuti Orientasi Penguatan Komunikator Metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Kegiatan berlangsung oleh Dinas Kesehatan Kota Bontang tersebut berlangsung selama dua hari, pada 3-4 Juni 2026 di Hotel Equator Bontang, Kalimantan Timur.
Neni Moerniaeni selaku Wali Kota Bontang mengatakan perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menurunkan angka stunting. Menurutnya, intervensi gizi yang diberikan pemerintah memiliki batas waktu sehingga perlu didukung perubahan pola asuh dan kebiasaan keluarga agar status gizi anak tetap terjaga.

“Intervensi seperti pemberian makanan tambahan maupun suplemen memiliki masa tertentu. Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua mampu mempertahankan status gizi anak melalui pola asuh dan kebiasaan yang baik setelah intervensi berakhir,” ungkapnya, sesuai yang diliris bekesah.co.
Dijelaskannya, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama dalam upaya menekan stunting, mulai dari kepatuhan remaja mengonsumsi tablet tambah darah, kesiapan calon pengantin menjalani kehamilan sehat, kepatuhan ibu hamil mengonsumsi suplemen, hingga praktik pemberian ASI eksklusif dan imunisasi anak.
Ia menilai petugas kesehatan dan kader memiliki peran strategis karena berhadapan langsung dengan keluarga yang berisiko maupun yang telah mengalami stunting.
“Petugas kesehatan harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat. Jangan sampai niat membantu justru tidak diterima karena cara penyampaiannya kurang tepat,” ucapnya.
Menurut Neni, metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) dinilai efektif karena mengedepankan pendekatan persuasif dan empati dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi pilar kedua Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, yakni kampanye perubahan perilaku.
“Kegiatan ini bertujuan menyiapkan lebih banyak komunikator yang mampu memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui pendekatan komunikasi antar pribadi,” jelasnya.
Peserta orientasi berasal dari berbagai instansi, antara lain puskesmas, Dinas Kesehatan Kota Bontang, Rumah Sakit PKT, RS Badak, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana.
Selama pelatihan, peserta dibekali kemampuan menyiapkan sesi edukasi, menerapkan teknik komunikasi persuasif, menyampaikan informasi kesehatan secara efektif, serta mengelola proses edukasi dengan durasi yang tepat.
Sementara narasumber kegiatan berasal dari Forum KAP Jakarta, yakni Risang Rimbatmaja, Fivi Yanti, Yesi Maryam, dan Irdina Fathiyah Rahvi. Kegiatan ini bekerja sama dengan Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur dan peserta akan memperoleh sertifikat Learning Management System (LMS) Kementerian Kesehatan. (IR)
Sumber: Media online bekesah.co