Infokom DPP - Kontribusi institusi pendidikan dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat dapat diwujudkan melalui program pengabdian masyarakat yang bermanfaat dan berkesinambungan.

Sehubungan itu sekaligus merealisasikan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, Poltekkes Kemenkes Jakarta III menggelar Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) melalui Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) bertajuk “Penguatan Peran Kader Kesehatan sebagai TPK (Tim Pendamping Keluarga) dalam Memandirikan Masyarakat untuk Pencegahan Stunting dengan Memberdayakan Kelompok Lansia Peduli ASI (KLP-ASI) di Kelurahan Pondok Ranggon, Jakarta Timur Tahun 2026.”

Upaya kolaboratif dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta III, pemerintah kelurahan, puskesmas, kader kesehatan, serta kelompok lansia berlangsung di Kelurahan Pondok Ranggon, Kecamatan Cipayung, DKI Jakarta, 1-3 September 2026.

Saat pembukaan kegiatan dihadiri Lurah Pondok Ranggon Agus Erwin diwakili Dian Ekawati selaku Sekretaris Kelurahan Pondok Ranggon, Kasie Kesra Ratih Umaya dan para undangan lainnya.
Kegiatan Pengabmas PPDM diketuai Deswani bersama Titi Sulastri, Ani Kusumawati, Andi Sari Bunga Untung, Santun Setiawati, Jathu Dwi Wahyuni, Dita Sulistyowati, dan Egiesta Amalia.
Berdasarkan keterangan tertulis kepada ppni-inna.org, disampaikan bahwa pencegahan stunting tidak cukup hanya dilakukan melalui intervensi tenaga kesehatan, namun peran masyarakat khususnya kader kesehatan dan keluarga menjadi kunci agar upaya pencegahan dapat berlangsung secara berkelanjutan hingga tingkat rumah tangga.

Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun kekuatan masyarakat dari tingkat komunitas hingga keluarga. Dengan memperkuat kader agar mampu menjalankan fungsi pendampingan keluarga, sementara lansia diberdayakan melalui Kelompok Lansia Peduli ASI (KLP-ASI) sebagai bagian dari lingkungan pendukung bagi ibu menyusui dan keluarga dengan balita.
Dalam program ini, kader kesehatan ditempatkan sebagai salah satu ujung tombak pendampingan keluarga. Mereka tidak hanya menerima materi pelatihan, tetapi juga dibekali keterampilan untuk melakukan edukasi, komunikasi dengan keluarga, kunjungan rumah, serta pencatatan dan pelaporan hasil pendampingan.
Tim dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta III memberikan penguatan pengetahuan, keterampilan, simulasi, serta pendampingan lapangan. Sementara itu, pihak Kelurahan Pondok Ranggon dan puskesmas setempat berperan dalam mendukung pelaksanaan program di wilayah masyarakat.

Kader kemudian diarahkan untuk menerapkan keterampilan yang diperoleh melalui kunjungan langsung ke rumah sasaran. Pendekatan ini diharapkan membuat kader lebih siap menghadapi kondisi nyata di lapangan sekaligus mampu memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Adapun salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah pelaporan digital menggunakan Google Form, dimana sistem ini digunakan untuk membantu kader melakukan pencatatan hasil pendampingan secara lebih terstruktur sehingga data dapat menjadi bahan monitoring dan evaluasi program.
Sedangkan keunikan program Pengabmas PPDM ini terletak pada pelibatan lansia melalui Kelompok Lansia Peduli ASI (KLP-ASI).

Lansia tidak ditempatkan hanya sebagai peserta kegiatan, tetapi didorong menjadi bagian dari lingkungan sosial yang memberikan dukungan kepada ibu menyusui dan keluarga dengan anak usia dini.
Melalui KLP-ASI, lansia diharapkan dapat ikut membangun suasana yang mendukung keberhasilan pemberian ASI dan MP-ASI, sekaligus menjadi bagian dari jejaring masyarakat dalam upaya pencegahan stunting.
Pendekatan ini sekaligus memperkuat kolaborasi lintas generasi. Kader berperan dalam pendampingan keluarga, sedangkan lansia dapat berkontribusi melalui dukungan sosial di lingkungan masyarakat.

Rangkaian kegiatan Pengabmas diawali kegiatan pembukaan dan pelatihan di Kantor Kelurahan Pondok Ranggon, Selasa (1/9), peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal sebelum mendapatkan materi. Materi yang diberikan antara lain mengenai peran kader balita dan lansia dalam pembentukan KLP-ASI–MP-ASI, peran lansia dalam mendukung pemberian ASI dan MP-ASI, prinsip pemberian ASI dan MP-ASI, serta pengenalan menu MP-ASI lokal bergizi berbasis bahan sehari-hari.
Pada hari kedua, Rabu (2/9) pelatihan dilanjutkan dengan materi dan demonstrasi mengenai penanganan masalah selama menyusui, resep dan porsi MP-ASI, penyajian MP-ASI, serta teknik pendampingan keluarga melalui kunjungan rumah. Selanjutnya Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai sistem pelaporan digital sebagai bagian dari penguatan keterampilan kader.

Kemudian pembekalan dilanjutkan dengan praktik lapangan pada hari ketiga, Kamis (3/9), yang mana peserta mengikuti uji coba lapangan, orientasi pelaporan, dan simulasi kunjungan rumah. Untuk kader dan calon anggota KLP-ASI dibagi berdasarkan wilayah RW 01 hingga RW 06, dan setiap wilayah didampingi oleh seorang fasilitator. (IR)