nfokom DPP PPNI - Berlarutnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada wilayah tertentu di Indonesia menimbulkan dampak yang dapat merugikan kesehatan masyarakat.
Sebagai upaya mengurangi akibat yang ditimbulkan, maka pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat layanan medis di sejumlah wilayah. Berdasarkan lansiran Detik Health yang diliris lensahukum.co.id, bahwa Kementerian Kesehatan RI melaporkan 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota yang tersebar di 7 provinsi terdampak.
Dengan jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus ISPA dialami anak berusia 0-5 tahun. Sementara itu, lebih dari 13 juta penduduk berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan karhutla.
Sejumlah provinsi telah menetapkan status siaga darurat maupun tanggap darurat sebagai bagian dari upaya menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut membuat perlindungan kesehatan warga menjadi salah satu fokus penanganan di wilayah terdampak.
Asap kebakaran membawa sejumlah zat yang berpotensi membahayakan kesehatan. Menurut Kemenkes, kandungannya mencakup partikel halus PM.25, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun.
Dalam keterangan yang dikutip dari akun Instagram resmi Kemenkes pada Rabu (14/10/2026), paparan asap dapat memicu gangguan pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan yang telah dialami seseorang.
"Asap Karhutla mengandung partikel halus PM.25, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Paparannya dapat menyebabkan ISPA, iritasi mata/kulit, perburukan Asma dan PPOK, serta peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke," terang Kemenkes.
Kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
"Perlindungan diutamakan bagi kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma/PPOK, serta pekerja luar ruangan," lanjutnya.
Untuk mendukung penanganan di lapangan, Kemenkes telah mengerahkan 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan. Jutaan perlengkapan medis beserta obat-obatan juga didistribusikan ke berbagai wilayah yang terdampak karhutla.
Bantuan tersebut mencakup masker, alat bantu penyediaan oksigen, pelindung wajah, sarung tangan, alat pelindung diri, hingga perlengkapan untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat.
Perlengkapan tersebut menjadi bagian dari dukungan medis bagi masyarakat di daerah terdampak. Distribusi dilakukan bersamaan dengan pengerahan tenaga kesehatan untuk membantu menangani berbagai masalah kesehatan yang berkaitan dengan karhutla.
Selain mendistribusikan bantuan, pemerintah menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menangani warga yang mengalami gangguan akibat asap. Kemenkes menyatakan terdapat 1.691 puskesmas dan 36 rumah sakit rujukan yang disiagakan.
“Pemerintah telah siagakan sebanyak 1.691 puskesmas dan 36 RS rujukan yang siap berikan pelayanan untuk menangani berbagai dampak kesehatan akibat Karhutla,” ungkap Kemenkes. (IR)
Sumber: Media online lensahukum.co.id