Infokom DPP PPNI - Peran seorang Perawat dapat memberikan inspirasi bagi sejawat lainnya untuk mengatasi krisis keuangan.
Di Kulon Progo, ada seorang Perawat yang menekuni pertanian melon hidroponik. Kisahnya berasal dari perawat RSUD Wates Tri Erfin Ardiyanto, 33 tahun. Sehari-hari bekerja di rumah sakit, namun karena keisengannya dalam mengolah lahan kini justru mendapat keuntungan dari sana.

Tiga greenhouse berdiri kokoh di hamparan lahan pasir Pantai Bugel, Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan. Dari ketiga greenhouse itu, berdiri papan nama Agrowisata Semangka Kotak Farm. Saat musim libur panjang, tempat ini kerap menjadi titik kumpul wisatawan.
Wisata yang disajikan dalam greenhouse berupa petik melon dan mencicipi melon premium langsung dari kebun. Pengunjung agrowisata didampingi seorang pria bernama Tri Erfin Ardiyanto, pemilik sekaligus pendiri Semangka Kota Farm.
"Awalnya karena orang tua sakit, terus saya iseng buatkan greenhouse ini ternyata tidak terpakai," ucap Tri Erfin saat ditemui Radar Jogja di Agrowisata Semangka Kotak Farm, Minggu (18/1/2026).
Pria yang akrab disapa Erfin ini mengaku, pendirian agrowisata bukan atas unsur kesengajaan. Agrowisata berawal dari niat memudahkan kerja orangtuanya yang berprofesi sebagai petani di lahan pasir Pantai Bugel.
Metode pertanian konvensional lantas diubah menjadi pertanian intensif menggunakan metode hidroponik dan greenhouse. Erfin membangun sebuah greenhouse hidroponik berukuran 6x25 meter.
Sayangnya, metode itu tak diterima oleh orangtuanya hingga berakhir menganggur. Greenhouse yang telah terbangun, sempat tak produktif. Pasalnya, tak ada yang mengurus operasional. Utamanya, Erfin yang telah bertugas sebagai perawat di RSUD Wates.
"Tidak terawat, akhirnya saya saja yang merawat, walaupun dengan pengetahuan minim," ungkapnya. Tepat tahun 2022, di sela-sela kesibukan sebagai Perawat, Erfin menggeluti bidang pertanian. Tentu, pertanian hidroponik menjadi barang baru baginya.
Dirinya bahkan melakukan riset mendalam untuk optimalisasi pertanian. Satu tahun melakukan riset dan uji coba, Erfin berhasil mengolah greenhouse terbengkalai menjadi lahan produktif menggunakan sistem hidroponik NFT.
Namun keberhasilannya juga diikuti tantangan baru. Pasalnya, melon premium hasil taninya belum banyak dikenal masyarakat. Alhasil, ia mulai berinovasi dengan membuat bentuk unik untuk buah melon dan semangka. Mengadaptasi teknologi buah berbentuk kotak, dirinya mulai dikenal pasar sebagai penghasil buah dengan beragam bentuk.
"Awalnya dari semangka berbentuk kotak, lanjut bentuk love, dan akhirnya membangun brand semangka kotak," ungkapnya.
Kendati mulai dikenal produknya, harga jual semangka premium ke tengkulak tergolong rendah. Di tengkulak, harga semangka atau melon premium hanya dijual Rp 15 ribu per kilogram. Padahal ketika ditemui di supermarket, harganya Rp 50 ribu per kilogram. Dengan harga serendah itu, operasional budidaya melon tak dapat ditutup.
Dari situlah muncul ide agrowisata petik buah langsung dari kebun. Pengunjung dapat menikmati pertanian greenhouse secara gratis. Sedangkan buahnya dapat dibeli dengan harga di bawah harga supermarket kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu.
Berkat inovasinya dalam pemasaran, agrowisata kerap menjadi jujukan wisatawan baik lokal maupun luar daerah. Dari situlah, penghasilan tambahan Erfin muncul. (IR)
Sumber : Media online radarjogja.jawapos.com