News

Indonesia Ingin Rencanakan Nakes Berkelanjutan & Susun Proyeksi Kebutuhannya Jangka Panjang

Oleh Admin Senin, 1 Desember 2025
Indonesia Ingin Rencanakan Nakes Berkelanjutan & Susun Proyeksi Kebutuhannya Jangka Panjang

Infokom DPP PPNI - Upaya untuk mengoptimalkan tenaga kesehatan dalam jangka panjang telah direncakan sejak saat ini.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan perlunya Indonesia memiliki perencanaan tenaga kesehatan jangka panjang yang lebih terukur dan berbasis data. Hal ini disampaikan dalam Seminar Nasional rangkaian HUT ke-25 Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) di Jakarta.

Menurut Menkes bahwa perubahan epidemiologi dan demografi masyarakat Indonesia menuntut penataan ulang kebutuhan tenaga kesehatan.

Menkes menjelaskan bahwa jumlah penduduk lansia kini meningkat pesat, bahkan di beberapa daerah seperti DKI Jakarta jumlah lansia sudah melampaui balita. Kondisi ini berdampak langsung pada jenis penyakit yang lebih banyak terkait degeneratif, sehingga kebutuhan tenaga kesehatan juga berubah.

 

“Pergeseran demografi ini otomatis mengubah kebutuhan tenaga kesehatan yang harus disiapkan,” ungkapnya, sesuai yang diliris rri.co.id.

Seiring meningkatnya penyakit seperti jantung, stroke, kanker, dan gangguan ginjal, Indonesia membutuhkan lebih banyak dokter spesialis. Namun hingga kini jumlah tenaga medis belum mencukupi. 

Menkes menyebut Indonesia masih kekurangan sekitar 70 ribu dokter spesialis, sementara produksi per tahun hanya mencapai sekitar 2.700 hingga 3.000 dokter baru. Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, Kemenkes untuk pertama kalinya menyusun proyeksi kebutuhan tenaga kesehatan jangka panjang. 

Model prediksi yang digunakan berasal dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dan telah disesuaikan dengan data nasional. Menkes menegaskan bahwa pendekatan ilmiah ini penting agar Indonesia tidak kembali kekurangan tenaga kesehatan di masa depan.

Kementerian Kesehatan juga telah menerbitkan buku perencanaan tenaga kesehatan jangka panjang versi pertama yang dapat diakses publik. Dokumen tersebut akan diperbarui setiap dua tahun untuk menyesuaikan perubahan kondisi di lapangan. Menkes menilai langkah ini sebagai fondasi penting dalam memperbaiki sistem kesehatan nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Menkes mengapresiasi masukan ARSADA yang dinilai paling memahami situasi nyata rumah sakit di daerah. Ia mencontohkan kasus di Papua, di mana layanan kebidanan sempat terhenti karena satu-satunya dokter obgyn sedang cuti.

Menurutnya, satu dokter per rumah sakit sudah tidak lagi relevan, dan minimal harus ada dua dokter untuk menjaga pelayanan tetap berjalan. Di akhir sambutannya, Menkes menegaskan bahwa perencanaan tenaga kesehatan merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia. 

Maka diharapkannya, pada peringatan 100 tahun kemerdekaan, generasi penerus bangsa dapat menikmati layanan kesehatan yang lebih baik berkat perencanaan yang dimulai sejak sekarang. (IR)


Sumber : Media online rri.co.id