News

Kontribusi & Eksistensi Perawat di Area Bencana Sumatera Untuk Bantu Masyarakat Terdampak

Oleh Admin Rabu, 10 Desember 2025
Kontribusi & Eksistensi Perawat di Area Bencana Sumatera Untuk Bantu Masyarakat Terdampak

Infokom DPP PPNI - Dampak bencana banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, sudah menelan jumlah korban yang sangat besar hingga 8 Desember 2025.

Menurut laporan terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lebih dari 900 orang meninggal dunia, sekitar 600 orang masih dinyatakan hilang, dan ribuan lainnya mengalami luka-luka.

Situasi ini menyebabkan masyarakat terdampak, banyak yang kehilangan tempat tinggal, harus hidup di tenda pengungsian, serta berada dalam kondisi darurat tanpa akses memadai terhadap air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, maupun rasa aman.

Dalam keadaan kacau dan serba terbatas tersebut, kehadiran perawat tidak hanya berperan sebagai tenaga kesehatan, tetapi menjadi penggerak utama pemulihan kesehatan masyarakat. Di tengah minimnya logistik, kurangnya tenaga dokter, serta tekanan psikologis korban, perawat berada di garis paling depan, hadir di tengah masyarakat yang paling membutuhkan pertolongan.

Mengapa Perawat Penting di Tengah Bencana?

Eksistensi keperawatan berdiri di atas fondasi teoritis dan filosofis yang memandang manusia sebagai makhluk utuh dengan kebutuhan biologis, psikososial, dan spiritual. Ilmu keperawatan tidak hanya membahas penyakit, tetapi juga berbicara tentang keselamatan, keadilan, martabat, dan harapan bagi setiap individu.

Saat bencana menghantam, berbagai aspek kehidupan masyarakat runtuh: tempat tinggal hancur, akses air bersih terputus, makanan terbatas, dan anggota keluarga hilang. Luka fisik, infeksi, dehidrasi, hingga trauma psikologis menjadi ancaman besar. Dalam kondisi seperti ini, perawat hadir dengan pengetahuan, empati, dan kepekaan kemanusiaannya, menjalankan peran gandanya: merawat sekaligus menjaga harapan.

Aksi Nyata Perawat di Lokasi Bencana & Tenda Pengungsian

Di lapangan, perawat tampil sebagai aktor utama yang memberikan pelayanan penting bagi masyarakat terdampak, antara lain:

1. Melakukan triase dan penilaian cepat

Mengidentifikasi kondisi korban—luka terbuka, hipotermia, cedera, dehidrasi—untuk menentukan siapa yang membutuhkan penanganan segera.

2. Memberikan pertolongan pertama dan perawatan dasar

Membersihkan luka, menghentikan perdarahan, menjaga kebersihan, hingga merawat ibu hamil dan bayi dalam kondisi darurat.

3. Mengorganisir kebersihan dan sanitasi pengungsian

Menjamin ketersediaan air bersih, membuat MCK sementara, memberikan edukasi cuci tangan, serta mencegah potensi wabah penyakit menular.

4. Memberikan dukungan psikososial

Mendengarkan keluh kesah korban, meredakan trauma, dan menghadirkan rasa aman—sebuah pelayanan yang sama pentingnya dengan perawatan fisik.

5. Menjadi penghubung antar lembaga

Mengkoordinasikan evakuasi, rujukan medis, distribusi logistik kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan dasar bersama tim penyelamat dan lembaga kemanusiaan.

Melalui tindakan-tindakan tersebut, perawat tidak hanya mengobati luka, tetapi juga “menjahit harapan” di tengah penderitaan masyarakat. Mereka menciptakan rasa aman, peduli, dan memanusiakan manusia agar tetap bertahan hidup.

Perawat: Harapan di Tengah Duka

Ketika rumah runtuh, jembatan patah, dan jalan terputus, kehadiran perawat menjadi simbol bahwa masih ada yang peduli, ada yang hadir, dan ada yang siap melayani.

Saat ribuan orang menggigil di bawah tenda pengungsian, ketika anak-anak menangis karena lapar dan kedinginan, atau ketika seorang ibu memandang kosong memikirkan masa depan keluarganya, perawat datang membawa lebih dari sekadar keterampilan klinis. Mereka membawa ilmu, empati, keberanian, dan harapan.

Dalam setiap langkah penyelamatan itu, dunia melihat bahwa keperawatan bukan profesi pelengkap, melainkan profesi dengan eksistensi yang utuh, mandiri, ilmiah, dan sangat manusiawi.

Di tengah hujan deras, lumpur, tenda seadanya, dan udara dingin pengungsian, perawat datang membawa pesan: bahwa rasa kemanusiaan harus tetap hidup, dan bahwa harapan selalu bisa dibangun kembali.

Untuk Itulah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan badan kelengkapan PPNI telah berkontribusi dalam membantu terhadap korban yang terdampak. (IR)

Sumber : Media utamanews.com, oleh: Siti Zahara Nasution & Lied Apriani Pane (Program Studi Magister Ilmu Keperawatan USU).