News

Perawat Neonatus Putri Meiga Berkontribusi Turunkan Angka Kematian Bayi di Kab Probolinggo

Oleh Admin Senin, 22 Desember 2025
Perawat Neonatus Putri Meiga Berkontribusi Turunkan Angka Kematian Bayi di Kab Probolinggo

Infokom DPP PPNI - Peran tenaga kesehatan yang berjaga di garis terdepan terutama pada layanan neonatal, kehadiran tangisan bayi juga sering menjadi penanda awal dari sebuah perjuangan panjang antara hidup dan mati bagi seorang bayi.

Upaya menekan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur  tidak hanya digerakkan oleh kebijakan dan program pemerintah, tetapi juga oleh dedikasi sunyi para tenaga kesehatan. Salah satunya adalah Putri Meiga Rofiatul HS, perawat neonatus yang kini bertugas di Puskesmas Klenang Kidul.

Data internal Puskesmas Klenang Kidul menunjukkan tren yang patut diapresiasi. Sejak tahun 2020 hingga 2025, angka kematian bayi mengalami penurunan signifikan, dari 22 kasus menjadi hanya 1 kasus. Capaian ini tidak datang secara instan, melainkan hasil kerja berlapis yang melibatkan kebijakan pemerintah daerah, penguatan layanan kesehatan primer serta kehadiran tenaga kesehatan yang kompeten dan berdedikasi di lapangan.

Putri Meiga lahir pada 25 Mei 1996. Ia merupakan lulusan Politeknik Kesehatan Malang tahun 2017. Menariknya, dunia keperawatan anak bukanlah pilihan yang sejak awal ia gemari. “Waktu kuliah, keperawatan anak justru mata kuliah yang paling tidak saya suka,” kenangnya. Namun jalan hidup membawanya bertugas di RSUD Waluyo Jati, tepatnya di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit), unit perawatan intensif bagi bayi dengan kondisi kritis.

Di ruang itulah Putri mulai mengenal dunia neonatus secara utuh. Dua bulan pertama menjadi masa terberat dalam kariernya. Ia harus belajar dari nol, berhadapan dengan bayi-bayi mungil yang hidupnya bergantung pada ketepatan tindakan medis. “Tapi justru di situ saya jatuh cinta. Saya merasa ini panggilan,” ujarnya.

Selama enam tahun mengabdi di NICU, Putri menangani berbagai kasus berat, mulai dari bayi prematur ekstrem, bayi berat lahir rendah (BBLR) hingga gangguan pernapasan serius. Ia mengikuti pelatihan khusus yang membekalinya kemampuan teknis penting, seperti merawat bayi dengan berat hanya 500 gram hingga pemasangan infus melalui tali pusat (umbilical catheter). Keahlian ini menjadi penentu keselamatan bayi pada jam-jam krusial setelah lahir.

Kebahagiaan terbesar baginya adalah saat melihat bayi prematur di bawah usia kehamilan 32 minggu mampu bertahan dan akhirnya pulang ke pelukan orang tuanya. “Rasanya luar biasa. Lelah terbayar,” tuturnya. Namun di balik itu, ada pula duka yang tak jarang menghampiri. Ketika segala upaya telah dilakukan, namun kondisi bayi terlalu berat untuk diselamatkan, rasa kehilangan tak terelakkan. Lebih menyakitkan lagi ketika kepercayaan orang tua terhadap tim medis belum sepenuhnya terbangun.

Tahun 2024 menjadi babak baru dalam perjalanan Putri. Ia berpindah tugas ke Puskesmas Klenang Kidul sebagai tenaga PPPK. Dari lingkungan rumah sakit rujukan, ia kini berada di layanan kesehatan primer. Perpindahan ini membuka perspektif baru tentang akar persoalan tingginya risiko kematian bayi.

“Dulu saya sering bertanya, kenapa bayi yang dirujuk ke rumah sakit kondisinya sudah sangat buruk. Setelah saya di puskesmas, saya baru paham tantangannya,” ungkapnya. Menurut Putri, masih banyak tenaga kesehatan di layanan awal yang belum terbekali keterampilan resusitasi neonatal secara optimal. Padahal, penanganan gawat darurat bayi tidak berhenti di ruang persalinan.

Resusitasi neonatal jelas Putri, juga mencakup fase pasca lahir, saat bayi mengalami gangguan napas, dehidrasi berat atau masalah sirkulasi. Prinsip dasar ABC (Airway, Breathing, Circulation) sering kali belum diterapkan secara tepat. Karena itu, ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM dan pelatihan khusus neonatus di puskesmas, terutama di wilayah terpencil.

Di luar aspek teknis, Putri juga menaruh perhatian besar pada peran keluarga dan faktor budaya. Edukasi kepada ibu dan keluarga bayi menjadi bagian tak terpisahkan dari tugasnya. Namun mengubah pola pikir masyarakat bukan perkara mudah. “Angka kematian bayi bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan. Orang tua juga harus peduli dan mau bekerja sama,” ujarnya.

Baginya, setiap bayi adalah anaknya sendiri. Prinsip itu yang membuatnya tetap bertahan di dunia yang penuh tekanan ini. Ia juga terinspirasi oleh dr. Mohammad Reza, M.Biomed., Sp.A Subsp. Neo(K), sosok yang membuatnya memahami bahwa perawat dan dokter adalah mitra sejajar dalam menyelamatkan kehidupan. (IR)


Sumber : Media online probolinggokab.go.id