Infokom DPP PPNI - Demi mewujudkan keinginan tenaga kesehatan terutama Perawat telah melakukan aksi demo di wilayah Amerika Serikat.
Tepatnya di Kota New York didera krisis kesehatan hebat. Bukan karena pandemi baru, melainkan akibat meledaknya kemarahan para Perawat. Sekitar 15.000 perawat di New York City resmi melakukan aksi mogok kerja massal pada Senin (12/1/2026).

Setelah negosiasi kontrak dengan pihak rumah sakit menemui jalan buntu, kejadian ini tercatat sebagai aksi mogok perawat terbesar sepanjang sejarah kota tersebut.
Pemandangan mencolok terlihat di depan Rumah Sakit Mount Sinai dan Rumah Sakit New York-Presbyterian di Manhattan. Ribuan Perawat bertopi merah menyemut, membentangkan spanduk bertuliskan ' Safe Nurses, Safe Patients, dan Fair Contract". Pekikan tuntutan mereka menggema, menuntut keadilan di tengah beban kerja yang kian tak manusiawi.
Asosiasi Perawat Negara Bagian New York (NYSNA) menegaskan bahwa aksi ini melibatkan lima rumah sakit swasta besar. Pihak manajemen dituduh keras kepala karena menolak menandatangani kontrak yang menjamin rasio tenaga kerja yang memadai serta perlindungan kesehatan bagi tenaga medis garda terdepan.
Nancy Hagans, Ketua NYSNA, melempar kritik pedas. Menurutnya, isu krusial yang diabaikan manajemen bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan nyawa.
"Pihak manajemen menolak menangani isu terpenting: keselamatan pasien dan perawat," tegasnya dalam pernyataan resmi, dikutip Xinhua, Selasa (13/1/2026).
Selain masalah rasio staf yang timpang dan kekerasan di tempat kerja, ada poin baru yang memicu tensi: penggunaan kecerdasan buatan (AI). Para perawat menuntut pembatasan penggunaan AI dalam operasional rumah sakit yang dinilai bisa menggeser peran kemanusiaan dalam perawatan pasien.
Dukungan politik mengalir dari Wali Kota New York Zohran Mamdani. Ia turun ke jalan bergabung dengan para demonstran di Manhattan. "Para perawat telah menjaga kota ini tetap hidup pada masa-masa tersulit. Nilai mereka tidak dapat ditawar," ungkap Mamdani mendesak kedua belah pihak segera sepakat.
Namun, kekhawatiran besar membayangi publik. Gubernur Negara Bagian New York, Kathy Hochul, sebenarnya telah mengumumkan keadaan darurat sejak Jumat (9/1/2025). Aksi mogok ini terjadi tepat di tengah musim flu parah yang biasanya membanjiri ruang IGD.
Sejumlah rumah sakit, termasuk Rumah Sakit Montefiore Einstein di Bronx, mulai mengambil langkah darurat dengan menyewa Perawat sementara guna meminimalkan gangguan layanan. Namun, dengan skala mogok mencapai 15.000 orang, banyak pihak meragukan layanan kesehatan New York bisa berjalan normal. Pihak Montefiore bahkan sudah bersiap menghadapi aksi yang diprediksi akan berlangsung selama beberapa pekan ke depan.
Dunia kini melihat, ketika para penjaga kesehatan menyerah pada sistem, denyut nadi kota terbesar di dunia itu pun ikut melambat. (IR)
Sumber : Berbagai media online