News

Perawat Jiwa Dampingi Pasien di Lombok Tengah, Buka Pasung Untuk Buka Ruang Kepercayaan

Oleh Admin Kamis, 22 Januari 2026
Perawat Jiwa Dampingi Pasien di Lombok Tengah, Buka Pasung Untuk Buka Ruang Kepercayaan

Infokom DPP PPNI - Kepedulian Perawat jiwa terhadap pasiennya terus direalisakan demi menjalani hubungan terbaik.

Fauzi Tsanifiandi sudah sering mengalami perasaan ini, perasaan yang selalu muncul setiap kali berdiri di depan rumah pasien pasung. 

Setiap kunjungan ke rumah pasien pasung, selalu dimulai dengan satu kesadaran tidak ada proses yang singkat. Pasung tidak pernah bisa dilepaskan hanya dengan satu kali datang dan satu kali bicara.

Sebagai Perawat Kesehatan Jiwa Masyarakat (Keswamas) di RS Mutiara Sukma, Fauzi Tsanifiandi telah berulang kali mengetuk pintu yang sama, duduk di ruang yang sama, dan mengulang penjelasan yang sama. 

Ia tahu, melepaskan pasung bukan soal membuka kunci gembok, melainkan membuka ruang kepercayaan. Setiap kunjungan selalu melibatkan banyak pihak.

  

Fauzi datang bersama petugas puskesmas wilayah setempat, dinas kesehatan, dinas sosial, dan aparat desa ataupun lintas sektor lain yang tergabung dalam Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). Kolaborasi besar itu bukan untuk menekan keluarga, tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian.

“Tujuan kami selain memantau kondisi pasien, salah satunya adalah meyakinkan keluarga supaya mau melepaskan pasung,” ungkap dia.  

Namun, itu bertahap. Pihaknya tidak pernah memaksakan pasung harus langsung dibuka. Fauzi sangat paham, di balik pasung ada ketakutan yang rasional bagi keluarga.  

Banyak dari pasien yang ia temui sudah dipasung bertahun-tahun. “Banyak yang tidak terurus, bahkan tempat tinggalnya pun tidak layak,” katanya.   

Ada banyak contoh kasus pasung yang bisa terselesaikan bahkan kini pasien bisa berdaya, namun kunjungan pada pasien pasung tidak selalu mudah. 

Ia lalu terdiam sejenak, sebelum menceritakan satu kasus di Lombok Tengah yang sulit dilupakan. Rumah pasien itu hampir tidak memiliki dinding. Lantainya tanah, atap seadanya, tiang-tiang kayu menopang bangunan yang rapuh. “Kalau saya bilang, itu seperti kandang ternak, dan pasien itu dipasung pakai balok,” jelasnya.

Pasien tersebut bukan dipasung tanpa alasan. Menurut cerita warga, ia pernah melukai orang lain dengan senjata tajam. Ketika itu, rasa takut menyebar cepat. Dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah. “Warga sudah sangat resah. Jadi bukan cuma keluarga yang mendorong pasung, tapi juga masyarakat sekitar,” jelas Fauzi.

Belasan tahun berlalu, balok itu tetap terpasang. Fauzi dan tim datang rutin. Kadang keluarga tampak yakin, kadang ragu, kadang lelah. Ada kalanya keluarga berkata bahwa mereka percaya pasien bisa membaik, tapi meminta satu hal lagi. “Mereka minta kami membantu meyakinkan tetangga, warga sekitar, bahkan aparat desa,” katanya.   

Tekanan sosial, menurut Fauzi, sering kali lebih berat daripada ketakutan keluarga. Ketika banyak pihak terlibat, keluarga merasa lebih aman mengambil keputusan. 

Hingga kini, pada kasus Lombok Tengah itu, balok masih belum dilepas. “Ini masih jadi PR kami,” kata Fauzi jujur. 

Stigma terhadap keluarga maupun pasien pasung masih sangat kuat. Fauzi mendengar langsung cerita mereka yang harus mengunci semua pintu, dan mematikan lampu ketika pasien kambuh.   

Bagi keluarga, kekhawatiran terbesar bukan hanya soal pasien, tetapi soal penerimaan lingkungan ketika pasien kembali. “Pasien ini dulu pernah dievakuasi, tapi kabur. Saat itu kondisinya gelisah, dan masyarakat semakin takut,” katanya.   

Meski demikian, upaya tidak berhenti. Fauzi memastikan pasien kembali mendapatkan pengobatan yang dulu sempat terputus. Puskesmas dilibatkan secara rutin. “Walau pun masih dipasung, pasien tetap minum obat. Supaya keluarga bisa melihat perubahan,” ujarnya.   

Bagi Fauzi, obat bukan hanya untuk pasien, tetapi juga menjadi alat membangun keyakinan keluarga. Fauzi mengakui tantangan itu luar biasa. Namun ia juga percaya, perubahan hanya bisa terjadi jika ada kesabaran. 

Bagi Fauzi, setiap kunjungan ke rumah pasien pasung adalah tentang menunggu waktu yang tepat, waktu ketika keluarga, masyarakat, dan pasien sama-sama siap. Karena pasung, baginya, bukan sekadar belenggu di kaki, melainkan ikatan ketakutan yang hanya bisa dilepas dengan kepercayaan dan pendampingan yang terus-menerus. (IR)


Sumber : Media online lombokpost.jawapos.com