Infokom DPP PPNI - Memasuki bulan Ramadhan 1447 H pada tahun 2026 seluruh umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.
Salah satu suasana Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, dimana antusiasme masyarakat begitu terasa. Masjid semakin ramai, suasana kebersamaan menguat, dan semangatnya untuk beribadah.
Namun bagi seorang Perawat yang setiap hari melayani masyarakat, bahwa tantangan utama saat Ramadhan bukan semata pada kemampuan menahan lapar dan haus, melainkan pada kesiapan tubuh menghadapi perubahan pola makan, tidur, dan aktivitas harian.

Tanpa persiapan yang baik, perubahan mendadak ini dapat memicu gangguan kesehatan yang sebenarnya dapat dicegah.
Masyarakat Baubau memiliki kebiasaan konsumsi yang khas: makanan bersantan, olahan ikan asin, sambal pedas, serta kebiasaan minum kopi di pagi hari.
Tradisi ini tentu bukan sesuatu yang keliru. Namun ketika memasuki Ramadhan, penghentian atau perubahan pola secara tiba-tiba sering menimbulkan keluhan seperti sakit kepala akibat penarikan kafein, gangguan lambung karena perubahan jadwal makan, hingga rasa lemas berlebihan pada hari-hari awal puasa.
Tubuh manusia bekerja berdasarkan ritme biologis. Perubahan drastis tanpa adaptasi kerap memunculkan “protes” dalam bentuk keluhan kesehatan.
Karena itu, menjelang Ramadhan masyarakat sebaiknya mulai melakukan penyesuaian bertahap: mengurangi konsumsi kafein, membatasi makanan tinggi lemak dan pedas, serta membiasakan jadwal makan yang lebih teratur.
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada penderita penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes. Dalam praktik pelayanan kesehatan, saya kerap menemukan tekanan darah tidak stabil atau gula darah turun drastis akibat kurangnya persiapan dan pengawasan.
Tidak sedikit pula masyarakat yang belum menyadari kondisi kesehatannya karena jarang melakukan pemeriksaan rutin.
Puasa dapat memberikan manfaat metabolik jika dijalankan dengan benar, tetapi bagi individu dengan kondisi tertentu, konsultasi tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk memastikan ibadah tetap aman.
Tentunya sahur bukan sekadar makan agar tidak lapar, melainkan momen penting mempersiapkan cadangan energi dan cairan selama kurang lebih 13–14 jam berpuasa.
Konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah, protein seimbang, serta buah dengan kandungan air tinggi seperti semangka dapat membantu mempertahankan energi.
Sebaliknya, makanan tinggi garam, gorengan berlebihan, serta minuman tinggi gula sebaiknya dibatasi karena dapat memicu rasa haus lebih cepat.
Saat berbuka, pola makan juga perlu dikendalikan. Lonjakan gula darah akibat konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan dalam waktu singkat dapat berdampak kurang baik, terutama bagi penderita diabetes atau gangguan metabolik.
Berbuka seharusnya dilakukan secara bertahap dan proporsional, bukan sebagai pelampiasan rasa lapar, yang mana Ramadhan sejatinya merupakan momentum memperbaiki pola hidup.
Pengaturan porsi makan, peningkatan konsumsi air putih di malam hari, serta pengelolaan waktu tidur yang lebih teratur dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan jangka panjang.
Jika dikelola dengan baik, puasa justru membantu mengistirahatkan sistem pencernaan dan meningkatkan kesadaran terhadap pola konsumsi sehari-hari.
Diyakini bahwa ibadah dan kesehatan bukanlah dua hal yang bertentangan, namun keduanya saling menguatkan.
Tubuh yang sehat memungkinkan seseorang beribadah dengan optimal, dan ibadah yang dijalankan dengan penuh kesadaran membentuk disiplin serta pengendalian diri yang berdampak baik bagi kesehatan.
Dengan persiapan yang matang dan pola hidup yang lebih disiplin, Ramadhan tidak hanya membawa keberkahan spiritual, tetapi juga kesehatan yang berkelanjutan bagi masyarakat. (IR)
Sumber : Perawat Arief Munandar, dilansir rubriksultra.com