Infokom DPP PPNI - Peran tenaga kesehatan terutama Perawat dalam membantu penanganan masyarakat yang terdampak bencara telah banyak pembuktiannya.
Dalam situasi bencana, perawat berada di garis yang sering tidak terlihat, tetapi menentukan. Mereka bukan sekadar tenaga pendukung di posko atau rumah sakit darurat. Perawat menjaga kesinambungan layanan kesehatan, mengenali kebutuhan mendesak, mengawal pencegahan infeksi, serta membantu warga kembali menjalani kehidupan sehari-hari.

Dampak bencana tidak berhenti pada luka fisik atau kerugian ekonomi. Banjir dan badai, misalnya, dapat memunculkan risiko lanjutan berupa air tercemar, hunian tidak aman, tempat pengungsian padat, imunisasi yang tertunda, serta perawatan kehamilan dan penyakit kronis yang terganggu.
Risiko-risiko tersebut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seorang pasien diabetes mungkin kehilangan akses pada obat. Seorang lansia bisa mengalami penurunan fungsi karena terlalu lama tinggal di pengungsian.
Bagi masyarakat terdampak, bencana sering kali tidak selesai ketika air surut. Masa setelah bencana dapat berlangsung panjang, terutama ketika warga harus mengungsi atau tinggal di hunian sementara.
Untuk Perawat, kerja pemulihan berarti lebih dari memberi layanan klinis sesekali. Perawat ikut menjaga martabat warga, mengatur alur triase yang aman, mencegah penyakit menular, melindungi kelompok rentan, dan membantu masyarakat membangun kembali kemampuan merawat diri dalam kondisi terbatas.
Sistem kebencanaan yang siap perawat tidak boleh dibangun secara dadakan. Kompetensi perawat dalam bencana perlu dilatih secara terencana, mulai dari kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan.
Pelatihan tersebut juga harus disertai kejelasan peran, ruang praktik, jalur komando, serta perlindungan bagi tenaga kesehatan di lapangan. Persiapan ini penting karena bencana menuntut keputusan cepat.
Perawat harus mampu memilah kasus, mengelola kebutuhan obat esensial, menjaga layanan ibu dan bayi, melakukan surveilans penyakit, serta memberi informasi kesehatan yang akurat di tengah kepanikan. Tanpa persiapan, beban kerja meningkat dan risiko tekanan psikologis pada perawat juga bertambah.
Lebih jauh, perawat perlu dilibatkan dalam tata kelola risiko, bukan hanya dipanggil ketika krisis terjadi. Mereka dapat menjadi bagian dari edukasi peringatan dini, pemetaan kelompok rentan, rencana kesinambungan layanan, dan pemantauan pemulihan masyarakat.
Tempat pengungsian sering dipandang sebagai urusan logistik. Padahal, kualitas pengungsian menentukan kesehatan. Air bersih, sanitasi, kebersihan, akses layanan, perlindungan, serta ruang yang aman bukan pelengkap.
Semuanya memengaruhi risiko infeksi, kesehatan ibu dan anak, kesehatan mental, dan rasa bermartabat warga terdampak. Karena itu, standar hunian darurat perlu diperlakukan sebagai intervensi kesehatan.
Perawat komunitas dan perawat kesehatan masyarakat dapat membantu memantau kondisi pengungsian, menemukan masalah lebih awal, dan memastikan warga memperoleh informasi yang benar tentang kebersihan, pencegahan penyakit, dan akses layanan.
Pemulihan seharusnya tidak hanya diukur dari klinik yang kembali dibuka, rumah yang selesai dibangun, atau jalan yang kembali bisa dilalui. Semua itu penting, tetapi belum tentu berarti warga sudah pulih. Akses bisa tetap sulit, rasa aman belum kembali, dan kesehatan mental masih terganggu.
Karena itu, indikator pemulihan perlu lebih dekat dengan pengalaman hidup warga. Sistem kesehatan perlu melihat status fungsi, tekanan psikologis, dukungan sosial, kesinambungan pengobatan, kembalinya anak ke sekolah, serta rasa aman di lingkungan tinggal. Di tengah risiko iklim yang semakin intens, perawat terlalu penting untuk ditempatkan sebagai aktor tambahan.
Mereka hadir di komunitas, dipercaya warga, dan mampu menjembatani layanan kesehatan dengan kebutuhan sehari-hari. Strategi bencana yang mengabaikan kompetensi, perlindungan, dan kepemimpinan perawat berisiko hanya membangun ulang fisik, tetapi gagal memulihkan kualitas hidup.
Dilansir dari Rifky Octavia Pradipta dan Ferry Efendi dari Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga.
Sumber: Media online unair.ac.id